Pengalaman Operasi Gigi Geraham Bungsu (Part 3)

Sayup-sayup saya mendengar suara besi berbenturan. Sepertinya seseorang sedang membereskan sesuatu. Meski terasa sangat lemas, saya mencoba membuka mata dan melirik ke samping kanan saya, asal si suara bising. Dengan pandangan yang rabun dan berbayang, saya melihat perawat membereskan peralatan-peralatannya. Saya yang sedang tulalit mencoba mencerna kondisi saya saat itu.

“Oh iya ya abis operasi,” saya berbicara dalam hati. Saya kemudian berusaha menarik selimut agar dapat menutupi kepala saya.

“Eh jangan ditutupin mbak. Nggak apa-apa gini aja,” ucap sang perawat sambil mengembalikan posisi selimut seperti semula. “Capek ya mbak? lanjutin aja istirahatnya ya..” sang perawat menepuk-nepuk lembut pundak saya. Seperti kembali di-ninabobo-kan, kesadaran saya pun hilang.

Entah sudah berapa menit saya terlelap untuk kedua kalinya. Tubuh saya lemas hingga untuk membuka mata pun saya merasa letih. Saya mendengar suara orang lain yang berbincang meski saya masih malas membuka mata saya.

“Operasinya lancar. Mbak Aris juga sudah sadar. Nanti bisa segera dipindah ke ruang perawatan biasa.”

“Oke Dok. Terima kasih.”

Penasaran atas apa yang terjadi di sekeliling saya, saya membuka mata dengan rasa malas yang masih tersisa. Oh rupanya Mas sedang berbincang dengan Dokter Dimas.

“Oi Nek, berasa sakit atau apa gitu nggak?” tanya Mas ketika menyadari saya sudah sadar. Mas menghampiri saya. Ia merapikan selimut saya dan membetulkan posisi kerudung yang menutupi kepala saya. Oh alhamdulillah rambut dan telinga saya sudah ditutup dengan baik rupanya.

Saya hanya diam atas pertanyaan Mas. Bibir dan tenggorokan saya terasa sangat kering dan perih. Saya juga nggak bisa ngomong. Nggak ada kata yang keluar meski saya berusaha untuk bicara. Terasa tanpa tenaga meski hanya untuk mengangkat tangan. Saya hanya bisa tergeletak dengan tenang di kasur dengan mulut terbuka. Ada gulungan perban terpasang dalam mulut saya yang menjuntai dari dalam mulut sampai keluar ke pipi.

Cekrek! Cekrek!
Si Mas sibuk motoin saya yang dalam kondisi nggak asoy ini. Eh tapi bener juga sih. Buat kenang-kenangan. Mahal bookk buat bisa dalam posisi ini. Ehehehe..

“Kalau kayak gini sih pas operasi tadi gw nggak bakal ngegelinding dari kasur operasi yang sempit. Wong nggak kuat gerak. Hahaha.. ” Saya sibuk dengan percakapan yang saya buat sendiri dalam pikiran saya sembari menunggu untuk dipindahkan dari bangsal operasi ke ruang perawatan saya.

Dalam masa penggelindingan kasur dari bangsal operasi ke ruang perawatan biasa, berasa malu. Kayak abis ngapain gitu. Padahal gigi aja. Beruntung operasinya sampai dini hari. Jadi nggak banyak yang ngliatin.

“Lu tidur gih nek. Istirahat. Perban lw baru bisa dibuka nanti 7 jam setelah operasi. Trus lw nggak bisa minum dulu deh jadinya kalo haus. Tahan aja yak”, ujar Mas. Saya hanya menjawab dalam diam. Saya kemudian memberikan isyarat ke Mas untuk memasangkan kerudung saya dengan benar. Biar lehernya juga ketutup sama kerudung. Bukan ditutup sama selimut.

“Eng eng eng”, cuma suara itu yang keluar dari mulut saya.

“Kenapa? sakit? butuh apa?”

“Eng eng eng eng”

“Hah? duh gw nggak ngerti. ketik aja sini deh”. Mas menjulurkan handphone dan menghadapkan layarnya ke saya.

“Tenggorokan sakit. Tolong pasangin kerudung yang bener”, ketikan kalimat itu ternyata susah banget dibikinnya kalau ngetik di HP yang layarnya cuma bisa ditoel-toel jari sebisanya. Ternyata efek bius itu luar biasa ya pasca operasi. Gerakin tangan buat bisa noel-noel layar aja susah.

“Ini lw masih perban semua sekitaran mulut. Kalau tenggokan mah kata dokter jelas sakit. Wong lw nganga 2jam lebih”

“Eng eng eng”, saya kekeh meminta dipasangkan kerudung.

“Iye iye.. nih gw pasangin. Abis itu lw istirahat ye”

“Eng” (makasih ye Mas. Nih Kiss jauh :*)

Sekitar pukul 7 pagi dua suster cantik datang. Mereka melepaskan selang infus dan perban yang ada di mulut saya. Oh ternyata darahnya beneran banyak. Kelihatan dari warna si perban. Itu perban kalau saya bilang lebih mirip kayak pembalut. Atau jangan-jangan itu pembalut..?? ah terserah lah. Udah terlanjur. Hahaha..

Saya tidak diperbolehkan makan apapun selama 24 jam pasca operasi. Cuma bisa minum teh. Itupun yang nggak panas alias suhu ruangan. Jadi dari pagi – siang – sampai sore menjelang saya pulang, saya cuma ngeteh. Mbak suster cantik bahkan bertitah ke si Kakak supaya membuatkan saya teh saja setiap kali saya merasa lapar. Iya memang lapernya bakal ilang. Tapi ganti jadi kembung air.. :p

Sambil nuggu efek bius hilang total dan dipastikan tidak ada efek samping yang nganeh-nganeh pasca operasi, saya stay dulu di ruang perawatan buat numpang nonton doraemon. Nonton Doraemon di tipi ternyata masih sama. Iklannya banyak tapi ceritanya dikit.

*See you on next chapter*
Part4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s