Mengontrol Diri dalam Berekspektasi

Fokus kepada apa yang bisa kamu kontrol. Di luar itu, tiada perlu berharap. Kelola ekpektasimu.

Tiada akan pernah kamu dapat membuat SEMUA orang lain bahagia atas apa yang kamu lakukan. Dan tidak perlu juga kamu lakukan itu selama kamu tidak merugikan orang lain.

Seorang selebgram pernah menuliskan terkait banyak hal dan 2 kalimat di atas cukup membuat saya terpaku. aaah iyaa betul juga. Selama ini tidak pernah terpikir dalam benak saya belajar mengelola ekspektasi sehingga cenderung sering berharap atas sesuatu yang sesungguhnya di luar ranah yang bisa saya gapai.

Dari hal tersebut membuat saya menyadari bahwa berbicara secara terbuka dan mencari cara komunikasi yang tepat kepada seseorang atau dalam sebuah forum adalah hal penting yang harus saya pelajari. Saya yang dulu akan lebih memilih untuk diam dan berharap orang lain akan menggapai dan mengerti saya. Yang sebetulnya ada jalan lain yang lebih tepat yang mestinya saya lakukan dibanding dengan hanya diam. Yakni dengan mengemukakan apa yang saya inginkan dan saya pikirkan. Terkait bagaimana reaksi yang akan terjadi atas apa yang saya kemukakan tentu sudah diluar “ranah” saya. namun setidaknya saya telah menyelesaikan apa yang ada di bawah kontrol saya dan mengusahakannya.

Saya yang dulu akan cenderung menghindar dari konflik yang ternyata hal itu tidak selamanya benar. Karena konflik tetap dibutuhkan untuk mendapatkan perspektif dari masing-masing personal yang terlibat. Konflik tersebut juga tentunya bisa jadi membuat saya mendapatkan wawasan baru yang sangat berharga di waktu selanjutnya. Kepekaan dan pembatasan diri perlu saya bangun dengan baik karena berkaitan dengan bagaimana saya dapat menghadapi konflik tersebut dengan tidak menyakiti orang lain. Walaupun saya juga tidak mungkin akan dapat membuat semua orang bahagia. Namun setidaknya saya telah mengusahakan apa yang telah menjadi kewajiban saya.

Rasa tersakiti karena ada ekspektasi yang tidak tercapai tentu meremukkan kalbu dan kadang, rasa ingin membalas pun muncul. Ah namanya juga manusia. kanan kiri atas bawah depan belakang akan selalu ada syaitan yang membujuk melakukan perbuatan keji yang tidak disukai oleh Allah. Di saat genting itu lah saya pikir mengelola ekspektasi menjadi hal yang sangat perlu dilakukan. Memilih termakan rayuan syaitan dengan meratap dan membalas, atau belajar untuk kembali mengenali masalah yang dihadapi dan mengendalikan diri untuk menentukan tindakan selanjutnya harus dipilih. Mengakui bahwa diri sendiri melakukan kesalahan dan meminta maaf bukan lah suatu hal yang buruk. Karena dengan itu saya belajar agar dikemudian hari tidak melakukan kesalahan yang sama.

Menunjuk orang lain atas suatu insiden memang terasa menyenangkan. Beban berat dalam diri terasa terangkat. Di lain pihak menjatuhkan segala kesalahan pada diri sendiripun juga kadang tidak tepat. Semua hal perlu dilihat secara objektif. Mengoreksi diri mana saja yang bisa diperbaiki akan lebih berarti. Tentunya diiringi dengan mengelola ekspektasi. Tidak perlu bersandar ke orang lain. Cukup ke Allah dan diri sendiri menjalankan yang terbaik atas pembelajaran kesalahan yang sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s