Pengalaman Operasi Gigi Geraham Bungsu (Part 2)

Tik tok tik tok.. gelinding kesana kemari nungguin jam operasi. Ternyata 6 jam itu lama yaa..

“Permisi,” sapa seorang dokter yang masuk ke ruang perawatan saya. “Saya dokter yang bertanggung jawab untuk anestesi mbak nanti,” lanjut dokter tersebut.

“Ohh.. iya dok,” jawab saya.

“Saya coba jelaskan ya prosedur anestesi nantinya”.

“Oke dok”.

“Jadi nanti mbak akan dibius total ya. Selama pembiusan nanti akan dipasangkan alat bantu pernafasan. Step awal, anestesi diberikan untuk pembiusan dalam kurun waktu kira-kira satu jam. Jika dokter yang menangani operasi masih membutuhkan waktu tambahan, anestesi akan ditambahkan terus menerus hingga dokter yang menangi selesai. Apa ada pertanyaan mbak seputar anestesi nanti?”

“Oh nggak dok. Udah cukup jelas”.

“Baik kalau begitu. Saya permisi ya”.

“Oke dok. Terima kasih”.

Mas Dokter tersebut pun pergi meninggalkan ruangan saya. Sedangkan saya melanjutkan masa penantian saya. Bosen sebosen-bosennya. Menyesal bukan kepalang karena nggak bawa laptop untuk nonton. Jadinya cuma bisa bengong sambil ngobrol kesana kemari. Saya bahkan jalan-jalan keluar ruangan. Tadinya malah mau jalan-jalan ke mall deket RS aja (>,<) tapi nggak jadi. Nggak boleh sama suster (iyalah nggak boleh. Menurut antuumm??)

Kira-kira 3 jam sebelum akhir masa penantian menunggu tibanya jadwal operasi, saya mulai diberikan beberapa obat suntik yang ngasihnya nggak pake tusukan jarum baru ke kulit. Saya yang norak tentang dunia rawat inap ini baru tahu gimana memasukkan obat melalui kepala infus yang nempel di tangan. (eemm.. namanya kepala infus bukan yaaa yang benar.. Hahaha.. pokoknya yang nanti jadi jalur selang infus nempel itu lhoo..)

“Agak sakit ya say ini”, mbak Suster yang cantik meminta saya mempersiapkan diri menghadapi nyeri yang mungkin muncul ketika cairan obat yang dipegangnya disuntikkan ke kepala infus di tangan saya. Ternyata nggak sakit kayak yang saya duga. Cuma memang ada sensasi dingin terasa agak pegel gimanaaa gitu. Mbak suster kemudian mulai memasangkan selang infus ke saya.

“Ini apa ya mbak?”, tanya saya ke Suster cantik.

“Ini antibiotik say..”

“Ooohh.. terus mbak maksudnya disuruh puasa pas mau operasi itu kenapa ya mbak?”

“Kan kamu nanti dibius ya say. Biasanya kan mual-mual gitu. Untuk cegah muntah say..”

“Ooohh.. oke mbak. Makasih ya..”

Detik dan menit berlalu. Mbak Suster yang cantik masuk lagi ke ruang perawatan saya.

“Ganti baju ini ya say. Sisain dalaman aja.” mbak suster cantik menyodorkan seonggok baju putih. Wujud bajunya teman-teman bisa lihat di google dengan keyword “baju operasi pasien”. Modelnya seperti dress rok gitu, lengan pendek, berukuran besar dan ikatannya di belakang. Cara pakainya kalau teman-teman malu jika ganti baju dibantu orang lain, bisa pakai trik saya. Ikatkan dulu semua tali-tali itu kecuali yang dekat dengan bagian leher. Setelah itu langsung pakai seperti kalau memakai kaos biasa. Kemudian ikatkan tali yang belum terikat di bagian atas dekat leher.

Konon cerita kalau mau operasi yang masuk ke ruang operasi besar begitu, harus pakai baju operasi yang disediakan dan tidak mengenakan pakaian apapun lagi. (termasuk pakaian dalam >,<). Tapi ternyata si cerita itu tidak sepenuhnya benar alias bergantung dari jenis operasi yang dijalani. Saya termasuk orang yang mudah malu jika bagian tubuh saya terlihat oleh selain keluarga saya (tapi lebih malunya ke Allah kalau sampai aurat saya kelihatan sama non mahram. Dalam keseharian pun saya mengenakan kerudung.)

Sejak jauh hari saya sudah mempersiapkan peralatan yang harus saya bawa dari rumah dan trik meminimalisir anggota tubuh saya yang dapat terlihat nanti selama saya operasi. Saya membawa kerudung persegi yang lebar. Fungsinya untuk menutupi rambut dan telinga saya apabila saya keluar dari ruang operasi tanpa mengenakan tutup kepala. Saya juga membawa jaket. Fungsinya untuk menutup lengan saya bila baju operasinya berlengan pendek.

“Mas, nanti kalo aku keluar ruang operasi rambutnya kemana-mana, tolong tutupin pake kerudung yak..” pesan saya kepada si Mas.

“Iya”

“Beneran lho”

“Iya iya”

Setelah selesai ganti baju operasi, saya diminta berbaring senyamannya di kasur untuk kemudian digelandang ke ruang persiapan operasi. Saya tetap mengenakan pakaian dalam, bercelana panjang, memakai jaket, dan berkerudung. Sesampai di ruang persiapan, saya menunggu hingga dokter Dimas datang.

“Gimana? udah siap?” sapa dokter Dimas.

“Insyaa Allah”

Beberapa perawat kemudian mendorong kasur saya untuk masuk ke ruang operasi. Kesan pertama masuk ruang operasi, ternyata ruangannya cukup luas dan nggak seseram kayak yang di film-film. Dalam ruang operasi tersebut seingat saya (yang sayanya masih sadar) kira-kira ada 3 perawat. 1 perawat memasangkan pengukur denyut nadi ke telunjuk saya. 1 perawat memasang infus. 1 perawat memasang kabel di dada saya yang entah terhubung kemana.

“Pindah ke kasur yang itu ya mbak,” ujar mas perawat.

Nggak pake digendong, dengan sigap saya beralih dari kasur perawatan ke kasur operasi. Kasurnya sempit. Dalam bayangan saya, semoga saya ketika terbius nanti nggak ngegelinding. Saya kemudian diselimuti dengan rapi oleh salah seorang perawat.

“Saya tetap pakai celana nggak apa-apa kan?” tanya saya ke mas dokter anestesi.

“Cuma gigi aja kan yang dioperasi? nggak apa-apa”

Alhamdulillah. Lega rasanya..
Saya melihat mas dokter mulai menyuntikkan sesuatu ke infus saya. Pandangan mata saya mulai memudar..

*see u on next chapter*

Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s