Februari-ku

Hujan masih mengguyur malam terakhir bulan Februari. Mengantarkan sisa gelombang panas sore tadi untuk beranjak dari singgananya. Hawa dingin mulai menyeruak. Mengusikku untuk menenggelamkan diri ku ke dalam selimut.

Ku pandangi atap plafon kamar tidurku. Nampak bercak-bercak dan lingkaran coklat di beberapa tempat. “Ini kalo gw benerin rumah, bisa setara ama catering 600 orang kali ya.. atau lebih.. heeemmm.. resepsi gw ntar apa kabar.. heemm..” gurauku dalam hati. “Mungkin hati manusia bisa kayak si plafon ini. Yang lama-lama bisa mulai ada noda-nodanya dan butuh pihak lain buat bikin kece lagi”.

Aku melayangkan pikiran ku lebih jauh lagi. Mulai merunut kembali kejadian bulan ini. Dalam 28 hari yang kulalui, aku memaksakan diri untuk belajar membuat keputusan terbijak yang bisa ku ambil. Meski ku sadari tidak akan pernah bisa aku membuat semua pihak senang. Tidak akan bisa aku menuruti keegoan setiap orang. Tidak akan bisa aku menang dalam pertempuran menghadapi hati yang telah mengeras karena iri dengki dan sakit hati.

Dalam 28 hari bulan Februari yang telah kulalui, aku semakin menyadari bahwa manusia hanya bisa berserah diri kepada Allah SWT setelah kelelahan menggapainya dalam usaha yang dijalankannya. Hanya ada sujud untuk menyembah Sang Maha Kuasa dan meminta pertolongan-NYA ketika air mata tak lagi bisa dicegah. Layaknya batu karang yang tetap berdiri meski terus terhempas gelombang pasang lautan, aku harus tetap tegar meski banyak hujatan yang kuterima.

Dalam 28 hari bulan Februari yang telah kulalui, aku semakin menyadari bahwa hati manusia memiliki kedalaman yang tidak bisa terukur dengan ilmu pasti. Meski pepatah mengatakan batu dapat hancur dengan tetesan air yang terus menerus mengenainya, tidak demikian dengan hati manusia. Hanya dengan izin Allah SWT semua dapat terlaksana.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Qs. Al-Ankabut [29]:2-3)

Advertisements

Mematahkan Teori Menjadi Pribadi Seperti Cermin

Saya bisa menjadi baik kepada Anda jika Anda baik terhadap saya. Namun saya juga bisa berperangai buruk terhadap Anda jika Anda mempelakukan saya dengan buruk.

Prinsip itu saya pegang sekian lama dalam benak saya. Saya menjadi sosok seperti cermin dimana saya akan memperlakukan seseorang bergantung dari bagaimana orang tersebut memperlakukan saya. Saya bisa menjadi baik, namun saya juga bisa menjadi sosok yang akan melakukan hal buruk terhadap orang lain. Karena hal itu pula saya mengenal dendam dan mampu menyimpannya dalam kurun waktu yang cukup lama.

Beberapa waktu yang lalu, Allah mengatur saya untuk melakukan suatu perjalanan. Saya menjadi penumpang yang bisa duduk manis di kursi belakang. Teman saya, Mas Pimen, begitu saya memanggilnya, duduk di kursi kemudi dan dengan sabar mengemudikan mobil kesayangannya membelah kemacetan ibukota. Continue reading “Mematahkan Teori Menjadi Pribadi Seperti Cermin”

Ceritaku di Sabtu Kelabu

Aku masih memandangi layar handphone yang kini sudah meredup. Masih dengan perasaan tertegun atas pesan yang baru saja kuterima. Kurebahkan tubuhku dan ku ubah posisi tidurku senyaman mungkin.

“Semua akan berganti menjadi lebih baik”, ucapku dalam hati. Aku mulai menyadari bahwa aku kini telah mematikan satu sudut di dalam hatiku untuk berharap lebih kepada orang lain. Kepercayaan dan harapan kepada orang lain telah meredup seiring dengan semakin tingginya usaha yang kulakukan untuk menjadi sosok yang mandiri.

“Semua akan baik-baik saja”, ucapku dalam hati. Aku percaya bahwa Allah telah memberikan yang terbaik untuk ku. Namun masih saja setan berhasil meniupkan keresahan dan kegelisahan pada diriku hingga panjatan doa yang kulantunkan tak lagi khusyu’. Rasa takut tersakiti telah membentuk dinding keegoisan yang kokoh hingga kemudian aku mulai menyadari bahwa aku kini telah menghilangkan satu sudut kepedulianku terhadap orang lain.

Alam seakan mengerti dengan Sabtu ku yang terasa kelabu. Mendungnya langit yang diikuti dengan hujan deras menuntunku untuk terdiam dan berpikir lebih lama. Tenggelam dalam pikiranku yang mencari berbagai alasan untuk kutanamkan dalam diri ku agar rasa kecewa memudar.  Continue reading “Ceritaku di Sabtu Kelabu”

Mengintip Gula Dalam Secangkir Kopi Hangat

Kata orang, hidup ini pahit seperti kopi. Kata orang, dalam hidup ini banyak hal yang membuat hati harus menahan amarah yang berapi-api. Seperti kopi yang harus menahan diri ketika tersiram air panas di pagi hari. Kata orang, hidup ini butuh banyak hal manis agar bisa dinikmati. Seperti kopi yang membutuhkan gula agar lebih nikmat ketika tersaji.

“La Tahzan, Innallaha Ma’ana. Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah :40)

Meski terasa pahit, percayalah bahwa Allah telah menyelipkan cinta-NYA dalam tiap cobaan yang Allah berikan kepada hamba-NYA. Meski tiada manusia yang sempurna, percayalah bahwa Allah selalu ingin menyempurnakan iman dalam diri tiap hamba-NYA. Selalu ada manis yang bisa didapatkan dalam tiap duka yang melanda. Selalu ada jalan untuk tangis dalam tiap doa. Meski gula tak nampak dalam secangkir kopi hangat, namun ia tetap ada menemani rasa pahit kopi yang tersaji hangat di atas meja.

cup-of-coffee

Hujan Sore di Bulan Mei

Gemuruh suara dari langit mengajakku untuk memandangi dirinya. Nampak beberapa cahaya putih panjang membelah gelapnya langit. Buliran air terus berjatuhan untuk membantu gemuruh petir menyemarakkan sore ini. Bintang yang ku sebut sebagai matahari masih merelakan sinarnya tertutupi.  Mempersilahkan ketiadaan menghampiri awan hitam.

Dulu orang berkata jika akan ada pelangi yang menghias cakrawala setelah hujan reda. Namun bagaimana jika hujan turun di sore hingga malam hari? Keindahan langit mana yang harus kunanti?

Ditemani rintik hujan sore di bulan Mei ini, malam datang bersama dinginnya kekhawatiran dan kecemasan. Pancaroba yang dikenal dengan ketidakpastiannya, mengembalikan memori beserta harapan dalam angan pengharapan yang terpendam. Akankah esok hari datang panas terik yang terasa membakar, ataukah awan gulita yang menemani matahari dalam kelelahannya.

Kuharap cinta muncul seperti matahari dengan sinar hangatnya yang akan menemani sore ku di esok hari, lusa, dan seterusnya hingga penghujung bulan Mei tiba, agar awan gulita tak menampakkan dirinya dalam ruang yang kusebut rasa.

Kuharap kasih kan muncul seperti hujan yang terus ada bersama sore ku di musim penghujan agar kegelisahan dalam mendung gulita memudar berganti malam indah purnama dengan bintangnya yang indah.

rain-5574

Guratan Debu di Atas Batu

Seperti debu yang mudah terbang bila tertiup angin, aku pun sepertinya demikian. Keberadaanku hanyalah sementara di mata mereka. Aku bisa saja menghilang dalam memori kebahagiaan yang mereka simpan. Aku juga bisa saja tergantikan oleh memori baru yang lebih indah dalam ingatan mereka.

Seperti debu yang ingin selalu dihilangkan, aku pun sepertinya demikian. Bila aku hanya memberikan beban, aku akan disingkirkan. Dibuang. Terasingkan.

Seperti debu yang membentuk guratan di atas batu, namun mudah hilang bila tertimpa air hujan, aku pun sepertinya demikian. Seberapapun besar usahaku untuk menggapai puncak dan bertahan dalam menggoreskan kejayaan, akan selalu ada ujian. Aku bisa saja terjatuh dan tertelan gelombang kemudian menghilang bersama buih.

Dalam kesedihan sepertiga malam, kupahami jika aku ini hanya debu di atas batu. Cukuplah Allah bagiku. Cukup sampai disini aku terlalaikan oleh kesenangan dunia yang menipu.

rocks

Dear Heart, Why?

Dini hari ini aku kembali terbangun oleh suara dering telepon seseorang yang memperhatikan kualitas keimanan ku yang dinilainya mulai berkurang.

“Yuk solat”, suaranya dari kejauhan. “Winda udah duduk? udah sadar?”, lanjutnya.

“mmm..”, jawabku sembari memulihkan kesadaran ku agar nanti tidak terjatuh ketika mengambil air wudhu.

“Oke. Bye Winda. Assalamu’alaikum”, suaranya menutup percakapan.

“Waalaikumsalam”

Peperangan rutin pun dimulai. Dengan langkah sedikit gontai aku melepaskan diri dari jeratan selimut dan bantal guling yang nyaman itu. Mengambil air wudhu untuk kemudian melaksanakan qiyamulail agar bisa mengibarkan bendera kemenangan dari peperangan yang tak pernah habis itu.

Sebelum melanjutkan tidur, aku mulai menerawang kembali berbagai konflik batin yang saat ini sering terjadi dalam keseharianku. Mengapa aku masih mudah merasa kesal atas gangguan-gangguan kecil. Mengapa aku masih mudah memilih kegiatan duniawi lain dibanding menuntut ilmu mengenai agama yang aku yakini kebenaran ajarannya. Mengapa aku masih acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar. Mengapa aku masih mudah mengeluh. Continue reading “Dear Heart, Why?”