Berpijak di Kaki yang Berbeda

Beberapa waktu belakangan ini saya termasuk dalam kalangan pengguna sosial media yang cukup sering berselancar guna mencari informasi dan hiburan. Namun sering juga niat itu justru menjadi penyakit hati dalam diri. Melihat video anak yang makan lahap, melihat foto hasil kreatifitas anak, dan hal-hal yang sebenarnya positif tentang anak orang lain justru menjadi rasa iri dalam diri saya. Keinginan untuk membandingkan dengan anak saya pun tentunya tidak terelakkan. Kadang saya bahkan takut jika rasa yang timbul dalam lubuk hati saya menjadi penyakit ain untuk anak tersebut. Sering kali akhirnya saya unfollow akun tersebut untuk melindungi kedamaian saya. Biarlah saya dikatakan denial oleh orang lain. Toh itu kan kata orang. Bukan realita dimana saya dan suami sudah bersungguh-sungguh mengejar milestone anak agar tidak semakin tertinggal.

Jika ditelisik kembali, banyak juga informasi dari berbagai akun kredibel yang kemudian di-repost oleh akun yang saya follow. Saya tahu dan menyadari tentunya informasi tersebut dianggap penting oleh kenalan saya tersebut. Namun.. oh hai ego saya juga sering terusik. hahahaha..
Saya tidak akan menyangkal ketidaknyamanan tersebut. Tapi kontrol apa yang di-posting orang lain tidak akan pernah ada di saya. Hal yang saya bisa lakukan hanyalah memasang garis batas.

Iya itu penting bagi dia.

Apakah di saya menjadi penting juga?
BELUM TENTU

Penting untuk orang lain belum tentu penting untuk kita. Standar bisa jadi berbeda. Pijakan sepatumu tidak akan pernah sama dengan sepatunya.

Berhati-hati dalam bertutur kata kini berubah menjadi berhati-hati dalam posting di sosial media. Saya sebagai muslimah meyakini jika ada tulisan saya yang secara tidak sengaja menyakiti orang lain yang membaca, wow sungguh di akhirat balasannya. Berusaha menempatkan diri dari sudut pandang yang berbeda mau tidak mau perlu dilakukan jika tidak ingin mengusik perasaan orang lain yang membaca. Memilih kata yang mudah dipahami juga sangat penting agar inti dari informasi yang ingin diberikan bisa dipahami oleh banyak orang.

Memang, bisa saja saya bersikap tidak peduli. Ini kan akun saya. Suka-suka saya. Ya kalau tidak suka sih silahkan block saja. Semudah itu memang. Tapi saya meyakini Allah SWT lebih suka hamba-Nya yang menjaga lisannya yang kini bisa diwujudkan dalam tulisan di sosial media.

Segala bentuk aktivitas seseorang memang bisa luput dari pandangan mata manusia lain. Namun tidak akan pernah luput dari pandangan Allah SWT.

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيِّ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرً قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.

HR Muslim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s