Pengalaman Operasi Gigi Geraham Bungsu (Part 4)

“Nek, mau liat gigi lw yang mahal itu nggak?” Mas bertanya iseng ke saya.

“Mane? mau donk liat”

Mas memberikan sebuah cup tertutup yang berisi si Sombong beserta kawannya. Ternyata si sombong itu gede banget. Nggak kebayang bolong di gusi saya seberapa lama bakal keisi lagi buat nutupin kekosongan karena si sombong dan kawan-kawan diambil.

img-20161127-wa0015

“Itu ada formalinnya ya. Entar pas sampe rumah kubur aja”, lanjut Mas menerangkan.

Setelah saya merasa efek bius sudah hilang, saya memutuskan untuk pulang. Saya dijadwalkan kontrol seminggu berikutnya untuk mencabut jahitan. Suster dengan senyum manisnya yang mempesona, memberikan beberapa obat yang harus saya minum. Diantara obat itu ada obat anti nyeri dan antibiotik yang mestinya diminum dengan teratur. Mestinya.

Sesampai di rumah karena penasaran dan memang mau saya kubur aja si Sombong dan kawannya, saya buka cup kenangan dari RS. Wujud si Sombong jadi nampak menyeramkan kayak gini.

img_20161130_184505_hdr

Kalo kata orang-orang, yang gigi bawah di lempar ke genteng. Gigi atas dikubur aja di tanah. Lah kalo udah nyampur gini, gimana coba caranya tau yang bawah mana yang atas mana? jadi yaaa saya kubur aja semuanya. Hohoho..

Hari pertama kepulangan saya, saya hanya minum energ*n. Sekembungnya. Bukan sekenyangnya. Energ*n mana kenyang ya kaann.. Hari ke 2 saya makan bubur sumsum. Yang tinggal lhep nggak pake kunyah itu. Hari ke 3 sampai ke 6 saya makan bubur nasi atau soupcream. Itupun ayam dan sayurnya dialusin sebisanya. Kalo mau makan buah, pilih buah yang nggk butuh dikunyah. Kalo makan kerupuk, pake gigi depan ngunyahnya.

Hari ke 7 pun tiba. Waktunya cabut jahitan. Cabut jahitan ternyata nggak perlu bius lokal. Saya pikir bakalan butuh bius karena ada kemungkinan sakit. Cabut jahitannya nggak sakit tapi ada sedikit rasa kayak kelolokan. Emm kelolokan itu apa yaa bahasa bagusnya. Kayak kalo lagi minum obat geddeee tapi susah nelennya. Nah gitu mungkin.

“Nah ini coba dipake makan lagi ya gerahamnya”, pesan dokter Dimas.

“Oke dok. Terima kasih”

Alhamdulillah.. kelar juga urusan si Sombong. Here is the end of my Greedy teeth.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s