Senandung Kelabu

Siang ini mendung memenuhi langit. Menutup sinar matahari yang semestinya terik menjadi samar-samar. Semburat sendu yang membekas dalam kalbu membuat kelu lidah ku. Ku pandangi sosok di layar handphone ku. Sebuah potret diriku 10 tahun lalu.

Telah ku coba untuk bertransformasi menjadi seseorang yang tak perlu membeku jika harus bertemu dengan senandung kelabu. 10 tahun yang ternyata belum cukup untuk membuatku berteman dengan ikhlas dan sendu. Bias memori tentang pahit dan manis hidup kini justru terasa semakin nyata. Mendekapku, menarik ku menjauh dari syukur kepada Tuhan semesta alam, ALLAH SWT.

Hai kabut duka,
kau memang akan tetap ada. tapi maaf, aku ingin diriku tidak terus menerus takluk padamu.

Hai jiwa yang ingin dikenang dalam riang,
ini memang sulit. tapi ini lah jalan menuju surga. ikhlas menerima. bertawakkal kepada-NYA.

Terima kasih ya, Aku.
Tegakkan imanmu. Kuatkan sendi syukurmu. Tak apa jika kamu terus menurus mengadu kepada Pencipta mu. Sujudmu adalah pelabuhan terbaik untukmu.

Selamat tinggal, kelabu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s