Sekelumit Kisah Tentang Dia, Cinta Pertamaku, Papa

Haii.. ini dia cinta pertama ku. Aku memanggilnya papa. Sosoknya seperti kebanyakan ayah yang mencintai anak-anaknya. Tapi tentunya di mata ku ia jauh lebih spesial jika dibanding ayah teman-teman ku. Lebih spesial dari martabak telur yang harganya sudah menyamai tiga porsi bakso tenis *iya. telur bebek makin mahal 😦 aku juga sedih :(*.

Aku masih ingat benar moment dimana aku berlari melarikan diri dari papa karena nggak mau mandi atau bersembunyi di dalam lemari karena ngambek nggak dikasih uang untuk jajan pagi. Memotong tali sandal biar dibeliin sandal baru yang kayak si itu dan si anu. Pura-pura ketiduran di depan televisi biar digandong ke kasur. Manja nggak mau bangun pagi biar langsung digendong ke kamar mandi. Atau kemanjaan ku yang lain yang masih aku lakukan hingga saat ini kepadanya. Sayang banget anak kan?

Meski dulu aku sempat bertahun-tahun tidak tinggal serumah dengan papa, aku tetap mencintainya. Kewibawaannya saat mengimami ku solat. Pengorbanannya yang tak pernah berakhir demi kebahagiaan anak-anaknya. Pujian indahnya ketika aku mampu berdiri dengan kemampuan ku. Sinar kebanggaannya ketika aku mampu membantunya. Mata redupnya ketika lelah bekerja. Perut tambunnya karena tidak sempat berolah raga. Kerut wajah gambaran usia dan pengalaman hidupnya. Ringkih tubuhnya karena alergi yang dideritanya. Gaya bekennya ketika menyanyi dan bermain gitar. Kokohnya pendirian atas kejujuran. Dan semua ketampanan lain yang ia punya menjadi kayu bakar yang tak pernah habis untuk api sayang ku agar tetap berkobar untuknya. Oh tapi aku tahu bahwa rasa yang ku punya masih jauh dari kata sama dengan rasa sayang papa untuk ku. Dia hebat bukan?

Ia mengenalkan ku dengan arti ketabahan dalam rangkulan kasihnya. Ia mengajari ku bersimpati pada orang lain melalui kisah manis dan asam garam kehidupan yang pernah ia jalani. Ia menuntun ku bersikap sabar dan pantang menyerah atas semua hal yang kami alami bersama. Ia mendidik ku agar menjadi pribadi yang dicintai Allah, Rasulullah, dan mahkluk Allah lainnya. Bertahun-tahun berperan ganda sebagai papa dan mama tak menyurutkan semangatnya demi mencerahkan masa depan anak-anaknya.

Jadi nggak heran donk ya kalau aku jawab “kayak papa” ketika ada pertanyaan “kamu maunya kayak gimana sih cari calon suaminya?” 🙂

lovedad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s