Mengontrol Diri dalam Berekspektasi

Fokus kepada apa yang bisa kamu kontrol. Di luar itu, tiada perlu berharap. Kelola ekpektasimu.

Tiada akan pernah kamu dapat membuat SEMUA orang lain bahagia atas apa yang kamu lakukan. Dan tidak perlu juga kamu lakukan itu selama kamu tidak merugikan orang lain.

Seorang selebgram pernah menuliskan terkait banyak hal dan 2 kalimat di atas cukup membuat saya terpaku. aaah iyaa betul juga. Selama ini tidak pernah terpikir dalam benak saya belajar mengelola ekspektasi sehingga cenderung sering berharap atas sesuatu yang sesungguhnya di luar ranah yang bisa saya gapai.

Dari hal tersebut membuat saya menyadari bahwa berbicara secara terbuka dan mencari cara komunikasi yang tepat kepada seseorang atau dalam sebuah forum adalah hal penting yang harus saya pelajari. Saya yang dulu akan lebih memilih untuk diam dan berharap orang lain akan menggapai dan mengerti saya. Yang sebetulnya ada jalan lain yang lebih tepat yang mestinya saya lakukan dibanding dengan hanya diam. Yakni dengan mengemukakan apa yang saya inginkan dan saya pikirkan. Terkait bagaimana reaksi yang akan terjadi atas apa yang saya kemukakan tentu sudah diluar “ranah” saya. namun setidaknya saya telah menyelesaikan apa yang ada di bawah kontrol saya dan mengusahakannya.

Saya yang dulu akan cenderung menghindar dari konflik yang ternyata hal itu tidak selamanya benar. Karena konflik tetap dibutuhkan untuk mendapatkan perspektif dari masing-masing personal yang terlibat. Konflik tersebut juga tentunya bisa jadi membuat saya mendapatkan wawasan baru yang sangat berharga di waktu selanjutnya. Kepekaan dan pembatasan diri perlu saya bangun dengan baik karena berkaitan dengan bagaimana saya dapat menghadapi konflik tersebut dengan tidak menyakiti orang lain. Walaupun saya juga tidak mungkin akan dapat membuat semua orang bahagia. Namun setidaknya saya telah mengusahakan apa yang telah menjadi kewajiban saya.

Continue reading “Mengontrol Diri dalam Berekspektasi”

Membangun Persepsi yang Sama

“Aris udah coba kirim-kirim CV tapi nggak ada panggilan nih..” ku mulai percakapan ku dengan Uda via chat.

“Nggak apa-apa. Ditunggu aja. Aku ada nih panggilan interview lusa,” jawab Uda.

“Waaahh.. semoga berhasil ya kak”.

Aku dan Uda sedang berusaha untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain karena perusahaan tempat kami bekerja tidak memperbolehkan suami istri untuk tetap bekerja bersama (Iya, aku dan Uda sekantor andaikata kamu lupa. Hihihi..). Aku dan Uda sepakat bahwa nantinya ketika kami menikah, aku boleh bekerja. Kalaupun nantinya aku berubah pikiran dan ingin menjadi ibu rumah tangga saja, Uda juga mempersilahkan.

Sembari mencari-cari pekerjaan baru, aku dan Uda mulai mempersiapkan beberapa hal untuk acara pernikahan kami (ngetik ini eyke kok jadi malu ya boookk.. hahahaha.. ). Tidak mudah menyamakan pemahaman dua suku yang berbeda. Uda berasal dari suku Minang. Sedangkan aku dan keluargaku bersuku Jawa. Patriarki yang bertemu dengan matriarki. Selain itu, lokasi tempat tinggal kami sangat berbeda. Keluarga Uda tinggal di Pekanbaru. Sedangkan ayah ku di Malang. Sementara aku dan Uda memutuskan untuk menetap di Jakarta.

Alhamdulillah.. aku merasa beruntung karena Uda dan keluarga mau mengalah dan menerima kondisi keluargaku yang agak berbeda dari keluarga pada umumnya.

Ayah ku meminta untuk melakukan acara pernikahan di Malang dan beliau menyanggupi untuk membantu aneka persiapan di Malang. Aku dan Uda memutuskan untuk tidak merepotkan keluarga mengenai biaya atas acara pernikahan kami. Biarlah tabungan kami yang menutupi seluruh kebutuhan. Cukup tidaknya ya disesuaikan saja dengan budget dari tabungan.
Namun andaikata aku diizinkan menikah cukup di kantor KUA saja, aku akan sangat senang. Gratis. Tapi nyatanya tidak semua orang tua mau menerima karena beberapa pertimbangan.

Meskipun acara pernikahan dilakukan di Malang, aku dan Uda sepakat bersama dengan keluarga Uda akan mengadakan acara syukuran di Pekanbaru sebulan selepas acara di Malang.

Hari berganti begitu cepat bersamaan dengan saldo rekening yang terkuras. Ku pandangi koper ku yang telah masuk ke bagasi pesawat yang akan mengantarku ke Malang. Bismillah.. ya Rabb.. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Oleh karenanya, mohon lancarkan hajat hamba untuk menikah. Tiada tempatku bersandar dan berharap selain kepada Engkau yang Maha Perkasa. Untuk rizki keluargaku yang Engkau titipkan melalui pekerjaan yang hamba lakukan selama ini, Ya Rabb Yang Maha Kaya, mohon dibukakan pintu lain karena dengan hamba menikah pekerjaan hamba sebelumnya sudah tidak bisa lagi menjadi salah satu pintu rizki. Amin