Bertemu dan Bertamu

“Aris.. mama sama papa ku mau ke jakarta. Aris mau nggak kalo ketemuan?” Uda membuka percakapan di chat.

Adalah suatu hal yang besar buatku jikalau seorang lelaki memintaku bertemu dengan orang tuanya. Kalau cuma datang karena main ke rumah teman laki-laki bersama teman-teman lain sih beda cerita ya. Udah “adat”nya mesti ketemu untuk menyapa dan salaman.

“Emmm.. Aris tanya papa dulu ya”, jawab ku membalas chat dari Uda.

Aku pun memindahkan jendela percakapan chat ku dari Uda menuju Sang Komandan, Papaku. Ku ceritakan ke papa jika Uda mengajakku untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Papa memperbolehkan dengan berbagai petuah sebelum menutup percakapan.


“Aris..” aku memperkenalkan diri sambil bersalaman dengan Mama Uda.

“Mama panggilnya tania aja yaa..” Mama Uda sepertinya belum terbiasa dengan nama Aris yang wanita 🙂

“Oh ya.. nggak apa-apa tante”, jawab ku.

Percakapan ringan sambil makan siang di suatu restoran di bilangan Kuningan itu berlangsung beberapa jam dengan diakhiri ajakan dari Mama Uda untuk berkunjung ke Pekanbaru, tempat tinggal Uda dan keluarga. Aku hanya bisa menjawab dengan tersenyum.


Beberapa hari dan minggu pun berlalu selepas aku bertemu dengan keluarga Uda. Uda pun juga sudah bertemu dengan Papa dan Emak di Malang. Tanpa ada perubahan dari hasil pertemuan itu, Uda masih dengan keputusannya untuk menungguku yang masih belum memiliki ketetapan hati.

“Tak apa. Aku masih dengan niat yang sama ke Aris. Aku juga masih akan nunggu Aris sampai Aris bener-bener yakin dengan keputusan Aris selanjutnya. Take your time”, begitu jawaban Uda ketika ku katakan kepadanya bahwa aku masih belum memiliki keputusan meski sudah masuk dalam hitungan bulan.

“Kakak yakin? Aris ngrasa kalo Aris tuh nggak kayak yang kakak bayangin. Nggak kayak kebanyakan cewek yang jago urusan dapur dan pinter dandan. Bukan dari keluarga yang selayaknya orang pada umumnya juga”

“Insyaa Allah aku yakin dengan keputusan ku. Aku juga nggak sempurna kok. Sama-sama kita menjadi lebih baik”

“Aris masih butuh waktu. Maaf ya kak. Anyway.. mau nggak kalo kita janjian ngaji gitu dalam jangka waktu tertentu?
Peraturannya gini.. kita sepakat di jam berapa gitu buat start ngaji. Dan itu wajib yaaa jam segitu hari apapun. Makanya jam nya perlu bener-bener dipikirkan. Nanti aku baca surat tertentu sejumlah ayat tertentu. Kakak juga demikian. Selama ngaji itu direkam ya trus saling kirim. Biar nanti bisa saling betulin bacaan masing-masing. Gimana?”

“Boleh”, jawab Uda.

“Okay deal ya.. trus mau jam berapa? Yang kakak biasanya udah lowong gitu. Kan jamnya soalnya harus tepat”

“Jam 8 malam gimana?” Uda mengusulkan.

“Okay kak. Mau mulai per kapan? Minggu depan gimana?”

“Sip,” jawab Uda.

Aku mengikuti saran salah satu temanku yang telah menikah. Dulu ia bersama suaminya belajar untuk memegang komitmen dan konsistensi dengan cara mengaji bersama dalam jam tertentu seperti yang telah aku sepakati bersama Uda. Kupikir tak ada salahnya mencoba. Barangkali ini bisa membantuku membuat keputusan lebih cepat. Dan nyatanya memang demikian yang terjadi.. *tutup muka malu-malu

Meski doa telah terpanjat, ikhtiar tetap harus dijalankan. Doa dan restu orang tua pun perlu diwujudkan. Semoga semua memang yang terbaik menurut Allah. Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s