Biarkan Hati Berbicara dengan Tuntunan Allah SWT

“Na, Kak Dairi ngajak aku nikah..!” dengan suara yang cukup pelan, ku buka percakapanku dengan salah satu rekan kerja ku yang duduk tepat di samping kiri ku.

“Ooh.. aku nggak kaget ris. Ehehe..” Ana menimpali.

“Lah.. kok bisa?” aku semakin terkejut.

“Iya. Di kereta tuh kalau dia bareng aku pas pulang, suka nanyain tentang kamu gitu. Cuma aku nggak cerita ke kamu. Hahaha.. trus gimana kamunya? mau nggak?”

“Gimana yaaa naa.. aku kan nggak tau apa-apa tentang dia. Cuma tahu nama doank lah bisa dibilang. Tapi aku udah janjian se ama dia mau tukeran CV gitu.”

“Ooohh.. yaa sambil istikharah ris. Ohohoho..”

“Insyaa Allah na. Sstt..” aku menutup percakapan karena rekan kerja ku yang lain sudah mulai banyak yang datang. Takut kedengeran gitu deh.. *sok artis :p

Aku memulai solat istikharah untuk menetapkan keputusanku. Dalam doaku yang biasanya hanya meminta kepada Allah untuk diberikan suami yang soleh nan penyayang, kini berubah menjadi pertanyaan yang meminta bimbingan untuk sebuah keputusan dari sebuah nama yang telah datang.

Aku sudah mendapatkan “contekan” template CV dari salah satu kakak seniorku dan juga temanku di SMA. Ku susun serapi yang kubisa, lalu ku kirim ke Uda ( mulai sekarang sebut saja si kakak itu dengan Uda :p ). Uda juga sudah mengirimkan template CV yang ia punya. Setelah itu by chat, kami menyepakati point mana saja yang ingin ada di dalam CV kami dan berjanji akan mengirimkan CV masing-masing dalam dua minggu ke depan.

************

Kupandangi layar laptopku. Hanya ada rangkaian point yang belum terjabarkan dengan baik untuk menggambarkan bagaimana seorang Ariestania Winda. Mendadak ngoding pemrograman terasa lebih baik daripada bikin CV taaruf. Menyesal kenapa cuma minta dua minggu untuk menyelesaikan CV ini. Harusnya minimal sebulan seperti jika aku membuat aplikasi yang sudah lolos QA dan siap migrasi ke production.

Ketik ketik ketik .. delete delete delete .. ketik ketik ketik .. bengong .. delete .. ketik ketik ketik..
Siklus yang sama terus berulang dalam dua minggu.

************

Di layar handphone ku sudah terlihat tulisan “Nama:  Dairi Ilmiyawan”. Biodata mengenai Uda dan hal lain yang berkaitan dengannya sudah kubaca dari CV yang ia kirimkan melalui email. Uda juga mengenalkanku dengan adik perempuannya yang bernama Dina dan sahabat karib perempuannya, Yunta, agar aku bisa bertanya mengenai uda dari sudut pandang mereka mengenai sisi baik dan buruk uda agar CV yang kuterima lebih objektif.

Aku mulai membuka email yang dikirimkan oleh Yunta kepadaku. Kubaca baik-baik pendapatnya mengenai Uda. Aku juga membuka email dari Dina mengenai pendapatnya terhadap Abang kesayangannya. Semua isi email yang kudapat menceritakan baik dan buruk Uda yang so far, aku bisa menerimanya. “Toh aku juga punya banyaaaaakk kekurangan,” pikirku.

************

“Gimana.. Aris ada yang mau ditanya nggak?” Uda memulai percakapan denganku di chat.

“Emm.. Belum ada se sementara ini. Tapi nanti kalau ada, Aris langsung nanya ke kakak. Oh ya. Biar adil, kakak nanti aku kenalin ya sama abang Aris dan temen deket Aris. Gimana?”

“Okay. Aku tunggu kabar aja ya dari Aris kapannya”

“Yup”. Kututup chat dengan Uda dan memulai chat dengan Rara, sahabatku.

************

“Hai bebz..” ku sapa Rara di chat.

“Oiittt.. kenapa kenapa?” Rara membalas dengan cepatnya.

“Jadi gini nih bebz. Kan Uda ngenalin ke gw tuh adek dan temen deketnya buat bisa tanya-tanya tentang dia ke mereka. Biar lebih objektif gitu. Nggak cuma dari sisi CV yang dia bikin aja. Nah biar lebih adil, gw ngerasa perlu ngenalin temen deket gw dan salah satu keluarga juga. Gw maunya lw bebz yang gw kenalin ke Uda. Keberatan nggk kalo gw kasih contact lw ke Uda buat ditanya-tanya?”

“Oke. Kasih aja bebz,” jawab Rara

“Siipp.. mohon bantuannya yaa.. ehehehehe.. makacih :*”

Kuganti tab percakapanku ke Uda. Kuberikan nomor HP Rara padanya. Semoga tidak ada masalah.

Aku bangun dari sofa kemudian melangkahkan kaki ku ke kamar mandi untuk berwudhu. Saatnya curhat kepada Allah Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-NYA. Kutundukkan kepalaku dalam sujud meminta petunjuknya dan meminta Allah menggerakkan hatiku ke arah yang lebih baik untuk kehidupanku di dunia dan akhirat kelak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s