Darimu yang Menginginkan Kamu dan Aku Menjadi Kita

Seperti biasa, aku memulai hari-hari dengan ngobrol kesana kemari sembari sarapan bersama rekan-rekan kerjaku. Tentunya dengan comot sana sini untuk mencoba sarapan mereka juga. Kalau dipikir-pikir, tanpa aku membawa makanan untuk sarapanku sendiri, aku bisa kenyang dengan “penghasilan” dari comot-comot itu. Tapi berhubung masih jaim, semua rencana itu ku urungkan. Kasian juga kalau mereka jadi masih lapar karena makanannya aku yang makan. Ohohoho..

Selepas sarapan, aku segera kembali ke meja kerjaku. Suasana ruangan agak sepi. Sepertinya banyak yang cuti karena dekat dengan liburan yang “kejepit”. Guna mempersiapkan ketangguhan jiwa dan raga untuk mulai berjibaku dengan coding lagi, aku membuka browser dan mulai berselancar di dunia maya.

“Hai Aris,” sapa salah satu rekan kerjaku. Ia kemudian duduk di kursi sebelahku.

“Ya?” aku melepaskan headset yang sudah nyaman terpasang di telinga. “Kenapa kak?”

“Emm.. bentar. Aku siapain diri dulu,” ia nampak ragu dan bimbang.

“Oh emang kenapa? eeemmm.. tulis di keyboard aja sini di kompi aris kalo susah ngomongnya”.

“Emm.. Aris udah punya calon suami?”

“Belom,” jawabku.

“Kalau nikahnya sama aku, Aris mau?”

Aku hampir tidak percaya dengan pertanyaan si kakak ini. Kupikir ia gugup karena ingin menanyakan sesuatu tentang teman perempuanku yang seperti bunga desa di divisi ku.

“Emm.. gimana yaa.. tapi Aris nggak mau pacaran ya. Aris juga maunya tuh bapak aris setuju dulu, baru aris mau pikir-pikir kelanjutannya. Bisa kasih Aris waktu?”

“Tentu”. Si Kakak kemudian diam, “Aku kesana ya. Selamat kerja lagi”. Ia lalu bangkit dari kursi dan menuju entah kemana. Sedangkan aku, sudah kembali dalam perkodingan yang nyata di depan mata.

Sesampainya di rumah dan melepaskan semua yang berhubungan dengan pekerjaan, aku mulai merenung dan memikirkan langkah apa yang harus kuambil atas pertanyaan si Kakak. Hanya nama dan sukunya saja yang ku tahu tentangnya. Sifat? pendidikan? rumah? orang tua? Duh boro-boro lah. Bisa dikatakan aku tidak tahu apapun tentangnya. Dengan kondisiku yang tak tahu apapun tentangnya, mana lah berani aku berkonsultasi dengan Bapak Komandan alias Papa yang ada di Malang. Yang ada nanti tercipta jenis percakapan macam ini.

Aku : “Pa, ada yang ngajak aku nikah”
Papa : “Siapa?”
Aku : “Temen satu divisi ku. Namanya Dairi”
Papa : “Orang mana?”
Aku : “Nggak tahu”
Papa : “Sifatnya gimana?”
Aku : “Kurang tahu. Ehehehehe”
Papa : “Lulusan mana?”
Aku : “Emm.. mana ya pa. Ndak tahu. hahaha”
Papa : “Keluarganya gimana?”
Aku : “Duh itu lagi. Nggak tau juga. ehehehe”
Papa : “Lah kamu gimana. Cari tahu dulu bla bla bla” *dan kemudian akan ada ceramah yang panjang menghabiskan pulsa

Akhirnya kuputuskan untuk menghemat pulsa telfon ku dengan menunda untuk menghubungi papa. Kubuka aplikasi chat yang kumiliki. Biasa. Curhat dulu sama teman.

Aku : “Bebz, ada yang ngajak gw merit”
Ra : “Siapa?”
Aku : “Ada tuh temen kantor. tapi gw nggak tau apa-apa tentang dia”
Ra : “Yaaa coba cari tahu dulu misal …….”
*dan kemudian chatting panjang lebar pun terjadi

Aku memutuskan untuk menghubungi si Kakak via chat. Ku utarakan mengenai diriku yang tak mengetahui tentangnya, selain nama.

Aku : “Aris nggak tau apapun tentang kakak. Gimana cara supaya Aris bisa tahu kakak, kakak juga bisa tahu Aris? Mau nggak kalau tukeran CV?”
Kakak : “Oke. Bentuknya mau gimana?”
Aku : “Aris bisa se cari contekan template”
Kakak : “Gini aja. Aris cari template, aku juga cari template. Nanti kita sepakatin bareng yang enak di Aris dan aku”
Aku : “Oke. Mau kapan deadlinenya?” *aih macam kerja aja pake deadline >_<
Kakak : “Seminggu? atau sebisanya Aris aja. Aku ngikut”
Aku : “Oke”

Malam semakin larut namun kantuk belum juga menghampiriku. Aku diam termangu sambil sesekali mengubah posisi tidurku. Aku teramat takjub bagaimana Allah begitu memahami hamba-Nya. Aku yang pernah merasa terlalu lelah menghadapi semua permasalahan pelik yang terus menerus datang, diberikan pilihan untuk memiliki teman berbagi. Bahkan pilihan itu datang lebih dari satu kali. Meski aku belum memutuskan dengan siapa nantinya aku akan beribadah dan berusaha membangun keluarga yang sakinah mawaddah warohmah dambaan seluruh umat, aku sangat berharap Allah tak akan melepaskan aku dari rangkulan rakhmat-Nya ditiap keputusan yang aku ambil.

Kupenjamkan mataku dan kututup hari dengan doa agar Allah selalu menuntunku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s