Pengalaman Operasi Gigi Geraham Bungsu (Part 1)

Di suatu liburan pagi yang sunyi dengan isengnya saya menghadap kaca sambil nganga lihat kondisi gigi saya. “Oh wow~ ada gigi geraham baru~” ucap saya berbincang dengan diri sendiri.

“Tapi kok wujudnya gini ya. Miring dan nggak sesuai sama jalur gigi yang lain,” sambil saya sok mikir yang padahal nggak tahu apa-apa di kala itu.

Saya kemudian mencari tahu mengenai si gigi “sombong” ini. Saya juluki sombong karena dia berukuran cukup besar dan memilih untuk memisahkan diri dari rombongan geraham yang lain. Ternyata si Sombong ini sebenarnya biasa dikenal dengan gigi bungsu. Ada juga yang bilang gigi geraham bungsu. Ada juga yang bilang gigi geraham ketiga. Tapi ujung di tiap artikel dari penjelasan si Sombong adalah sebaiknya “diangkat” aja dengan jalan operasi pembedahan yang bisa dilakukan oleh dokter spesialis bedah mulut. Ada banyak artikel yang membahas tentang si Sombong ini. Teman-teman bisa coba googling untuk lebih lengkapnya.

Dalam kunjungan rutin saya ke dokter gigi, saya diberi rujukan ke dokter spesialis bedah mulut dan melakukan scan panoramic guna melihat si Sombong lain yang berkemungkinan akan hadir di lain waktu. Dikhawatirkan saya akan mulai ngilu-ngilu dan lain sebagainya jika tidak segera mengatasi keberadaan si Sombong.

Oh benar saja. Dari hasil scan, saya bisa melihat si Sombong dengan 2 saudaranya bertengger dengan leluasa di posisinya. Takut kayak cerita orang-orang yang ngerasain sakitnya gigi gegara si bungsu, saya memutuskan untuk segera konsultasi ke dokter bedah mulut di suatu rumah sakit swasta di bilangan Bintaro.

“Saran saya sih cabut 3 3nya ya. Ini yang 2 memang belum nongol tapi dia impaksi. Kamu nggak pegel-pegel leher atau pusing gitu? biasanya kalau kayak gini udah berasa lho. Nih kelihatan nggak..?” dokter Dimas menerangkan ke saya sambil nunjuk-nunjuk saudara si Sombong.

“Oh gitu ya dok? emang sih sering pegel pusing gitu.”

“Nah kan.. emang sih kasus kayak gini nggak kayak tumor gitu yang kalo nggak diambil bakal gimana gitu ya. Tapi saya pernah punya kasus yang pasien saya itu sampai nggak bisa nganga. Jadi susah makan. Awal datang ke saya kurusnya biasa aja. Pas selanjutnya jadi kuuurrruusss bangett. Posisinya kayak kamu gitu giginya. Kamu kalo nganga bisa lebar nggak? bunyi kletuk-kletuk gitu nggak?”

“Iya bunyi kletuk-kletuk. Kadang kayak keseleo rahangnya kalo nganga kelebaran. Hahahaha.. ya udah dok cabut aja deh..”

“Iya itu kletuk karena si gigi cari posisi di rahang kamu. Ada 2 opsi nih. Mau 1 1 ambilnya atau ambil semua sekaligus? Kalau 1 1, kamu tiap minggu kesini. Hari ini gitu saya ambil satu, minggu depannya cabut jahitan. Lalu minggu depannya diambil lagi satu, minggu depannya lagi cabut jahitan. Gitu terus. Bisa juga langsung ambil semua. Bius total. Rawat inap sehari gitu. Minggu depannya balik lagi buat cabut jahitan. Abis itu kelar. Pilih mana?”

“Hmmm.. kayaknya enakan langsung semua dok. Cepet kelarnya. Langsung aja dok.”

“Oke. Nanti bisa dibantu oleh mbak suster di depan ya untuk penjadwalan dan lain-lain. Sampai ketemu”.

Saya berjalan mengikuti si mbak suster. Karena saya menggunakan fasilatas asuransi dari kantor tempat saya bekerja, saya hanya butuh untuk pindah ruangan dan tanda tangan di beberapa form. Alhamdulillah semua terasa mudah.. (*baca: nggak perlu mikirin biaya)

Saya terjadwal untuk operasi pada Sabtu malam sekitar pukul 22.00. Saya disarankan untuk datang pagi hari karena harus melalui beberapa tes kesehatan terlebih dulu dan beberapa persiapan lain terkait operasi yang akan saya jalani. Secara medis operasi yang saya jalani termasuk operasi besar. Mungkin karena saya akan dibius total? ah entahlah.. Hehe..

Alhamdulillah Allah yang Maha Kaya memberikan rahmat-Nya yang tiada tara dalam kehidupan saya. Ngelihat itu rincian biaya yang angkanya menyamai berbulan-bulan gaji saya, tapi saya nggak merasa kesulitan buat memenuhi itu semua, bukankah itu nikmat Allah yang indah?
Sekedar informasi sedikit, rincian biaya disana tidak hanya biaya untuk kegiatan dokter bedah mulutnya saja (yang dikali dengan jumlah gigi yang akan diambil) namun juga sewa ruang operasi,  biaya anestasi dan dokter spesialis anestesi, biaya rawat inap, obat-obatan, dan pemeriksaan kesehatan yang lainnya.

Hari H pun tiba. Sabtu  26 Desember 2016. Saya pikir karena operasi saya ini bukan suatu hal yang mengerikan, saya bisa dengan tenang melenggang ke rumah sakit sendirian tanpa ditemani siapapun. Namun ternyata tidak demikian menurut Mas dan Abang. Mereka tetep ngoyo mau nemenin bergantian. Bagaimanapun, makasih yaaa.. hehehe.

Sekitar pukul 11.00 saya sampai di RS. Melakukan check in dan kemudian menjalani tes darah, tes urin, dan scan thorax. Sampai di ruang rawat inap, saya langsung mendapatkan suntikan maut dari mbak suster yang cantik nan ramah.

“Udah pernah rawat inap belum say?”

“Belom mbak”

“Kalo operasi juga belom ya berarti. Ini saya suntik ya buat masukin selang infus dan obat nanti. Maaf ya agak sakit. Abis ini kamu makan ya terus puasa nggak boleh makan 6 jam sebelum operasi. Kalau minum juga nggak boleh ya 2 jam sebelum operasi.”

“Oke mbak. Makasih banyak”.

Dan dimulailah masa penantian menunggu jam operasi yang membosankan..

*** see u on next chapter ***
Chapter 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s