Mematahkan Teori Menjadi Pribadi Seperti Cermin

Saya bisa menjadi baik kepada Anda jika Anda baik terhadap saya. Namun saya juga bisa berperangai buruk terhadap Anda jika Anda mempelakukan saya dengan buruk.

Prinsip itu saya pegang sekian lama dalam benak saya. Saya menjadi sosok seperti cermin dimana saya akan memperlakukan seseorang bergantung dari bagaimana orang tersebut memperlakukan saya. Saya bisa menjadi baik, namun saya juga bisa menjadi sosok yang akan melakukan hal buruk terhadap orang lain. Karena hal itu pula saya mengenal dendam dan mampu menyimpannya dalam kurun waktu yang cukup lama.

Beberapa waktu yang lalu, Allah mengatur saya untuk melakukan suatu perjalanan. Saya menjadi penumpang yang bisa duduk manis di kursi belakang. Teman saya, Mas Pimen, begitu saya memanggilnya, duduk di kursi kemudi dan dengan sabar mengemudikan mobil kesayangannya membelah kemacetan ibukota. Mas Pimen tergerak untuk memutar audio rekaman ceramah dari Ustad Khalid. Sesosok ustad yang cukup termasyur dengan kegiatan dakwahnya. Sepanjang perjalanan itu pun saya mendengarkan rekaman ceramah Ustad Khalid mengenai bahayanya bergurau. Suatu hal yang mungkin bisa membawa seorang muslim menjadi fasik dan kufur karena perkataan dalam gurauannya.

Banyak hal yang bisa saya petik dari rekaman tersebut. Salah satunya dengan menjaga lisan dan diri saya untuk senantiasa berbuat baik dan berpikir terlebih dulu sebelum bertindak meskipun dalam konteks sedang bergurau. Saya juga tergugah untuk berpikir dan menimang kembali sikap saya selama ini.

Menjadi sosok seperti cermin tidak lah benar jika saya ingin menjadi muslimah soleha. Tidak lah benar jika saya memperlakukan seseorang bergantung dari bagaimana orang tersebut memperlakukan saya. Allah selalu memerintahkan hamba-NYA untuk berbuat baik kapan pun dan dimanapun. Bukan menyimpan dan membalas perlakuan buruk orang lain. Dalam berbagai riwayat pun Rasulullah tetap berbuat berbuat baik kepada orang-orang yang berbuat jahat kepada beliau. Kalaupun saya berbuat baik kepada orang lain dengan harapan agar orang lain baik terhadap saya, atau, saya berbuat baik kepada orang lain karena orang tersebut baik kepada saya, bukankah itu artinya saya tidak lagi melakukan hal baik karena Allah?

Maha Besar Allah dengan rencana-NYA yang begitu sempurna telah membimbing saya kembali untuk hanya berharap atas ridho-NYA. Meskipun sulit, namun mencontoh perbuatan Rasulullah untuk berbuat baik adalah keharusan. Bukan pilihan. Saya harus belajar meluruskan kembali niat yang telah berkelok-kelok jika memang surga adalah tempat yang ingin saya tuju di akhirat nanti.

berbuatbaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s