Ceritaku di Sabtu Kelabu

Aku masih memandangi layar handphone yang kini sudah meredup. Masih dengan perasaan tertegun atas pesan yang baru saja kuterima. Kurebahkan tubuhku dan ku ubah posisi tidurku senyaman mungkin.

“Semua akan berganti menjadi lebih baik”, ucapku dalam hati. Aku mulai menyadari bahwa aku kini telah mematikan satu sudut di dalam hatiku untuk berharap lebih kepada orang lain. Kepercayaan dan harapan kepada orang lain telah meredup seiring dengan semakin tingginya usaha yang kulakukan untuk menjadi sosok yang mandiri.

“Semua akan baik-baik saja”, ucapku dalam hati. Aku percaya bahwa Allah telah memberikan yang terbaik untuk ku. Namun masih saja setan berhasil meniupkan keresahan dan kegelisahan pada diriku hingga panjatan doa yang kulantunkan tak lagi khusyu’. Rasa takut tersakiti telah membentuk dinding keegoisan yang kokoh hingga kemudian aku mulai menyadari bahwa aku kini telah menghilangkan satu sudut kepedulianku terhadap orang lain.

Alam seakan mengerti dengan Sabtu ku yang terasa kelabu. Mendungnya langit yang diikuti dengan hujan deras menuntunku untuk terdiam dan berpikir lebih lama. Tenggelam dalam pikiranku yang mencari berbagai alasan untuk kutanamkan dalam diri ku agar rasa kecewa memudar. 

Biarlah hujan dan badai datang jika memang alam akan menjadi lebih sejuk dan rindang. Biarlah aku dan derita berteman jika memang menurut Allah hal itu dapat menentramkan gelisahku di malam-malam yang akan datang.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
(Qs Al-Insyirah 5-6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s