Hujan Sore di Bulan Mei

Gemuruh suara dari langit mengajakku untuk memandangi dirinya. Nampak beberapa cahaya putih panjang membelah gelapnya langit. Buliran air terus berjatuhan untuk membantu gemuruh petir menyemarakkan sore ini. Bintang yang ku sebut sebagai matahari masih merelakan sinarnya tertutupi.  Mempersilahkan ketiadaan menghampiri awan hitam.

Dulu orang berkata jika akan ada pelangi yang menghias cakrawala setelah hujan reda. Namun bagaimana jika hujan turun di sore hingga malam hari? Keindahan langit mana yang harus kunanti?

Ditemani rintik hujan sore di bulan Mei ini, malam datang bersama dinginnya kekhawatiran dan kecemasan. Pancaroba yang dikenal dengan ketidakpastiannya, mengembalikan memori beserta harapan dalam angan pengharapan yang terpendam. Akankah esok hari datang panas terik yang terasa membakar, ataukah awan gulita yang menemani matahari dalam kelelahannya.

Kuharap cinta muncul seperti matahari dengan sinar hangatnya yang akan menemani sore ku di esok hari, lusa, dan seterusnya hingga penghujung bulan Mei tiba, agar awan gulita tak menampakkan dirinya dalam ruang yang kusebut rasa.

Kuharap kasih kan muncul seperti hujan yang terus ada bersama sore ku di musim penghujan agar kegelisahan dalam mendung gulita memudar berganti malam indah purnama dengan bintangnya yang indah.

rain-5574

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s