Dear Heart, Why?

Dini hari ini aku kembali terbangun oleh suara dering telepon seseorang yang memperhatikan kualitas keimanan ku yang dinilainya mulai berkurang.

“Yuk solat”, suaranya dari kejauhan. “Winda udah duduk? udah sadar?”, lanjutnya.

“mmm..”, jawabku sembari memulihkan kesadaran ku agar nanti tidak terjatuh ketika mengambil air wudhu.

“Oke. Bye Winda. Assalamu’alaikum”, suaranya menutup percakapan.

“Waalaikumsalam”

Peperangan rutin pun dimulai. Dengan langkah sedikit gontai aku melepaskan diri dari jeratan selimut dan bantal guling yang nyaman itu. Mengambil air wudhu untuk kemudian melaksanakan qiyamulail agar bisa mengibarkan bendera kemenangan dari peperangan yang tak pernah habis itu.

Sebelum melanjutkan tidur, aku mulai menerawang kembali berbagai konflik batin yang saat ini sering terjadi dalam keseharianku. Mengapa aku masih mudah merasa kesal atas gangguan-gangguan kecil. Mengapa aku masih mudah memilih kegiatan duniawi lain dibanding menuntut ilmu mengenai agama yang aku yakini kebenaran ajarannya. Mengapa aku masih acuh tak acuh dengan lingkungan sekitar. Mengapa aku masih mudah mengeluh.

Dear heart, why?

Pertanyaan yang akhirnya aku tanyakan kepada diri ku sendiri. Hati ini tak boleh mati. Hati ini tak boleh gersang dari keimanan. Semua yang kulakukan kelak harus ku pertanggungjawabkan di hadapanNYA.

Dear heart, why?

Kau tak boleh lemah. Kau tak boleh goyah dengan semua godaan yang ada. Kuatkan dirimu. Menangis dan mengeluh tak akan pernah ada gunanya. Bergerak lah. Berjuanglah. Dengan izin Allah, KAU PASTI BISA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s