Skenario Sempurna untukku Bersandar

Aku telah berlari begitu keras melarikan diri dari realita yang menghimpitku. Semua pelarian ini seperti sia-sia. Semua mimpi buruk terasa semakin cepat bertransformasi menjadi kenyataan yang tak bisa lagi kusangkal. Aku sudah lelah berlari. Aku sudah tak memiliki tenaga untuk berpikir kemana lagi aku harus pergi. Aku sudah tak tahu bagaimana esok akan kugapai.

Ketika engkau merasa tak ada bahu sebagai tempat untuk engkau bersandar, masih ada Allah untuk tempat engkau bersujud.

Kalimat sederhana yang menyentakkan hati dan pikiranku. Ada rasa hangat menjalar dari hidungku lalu menuju ke indra penglihatanku. Buliran air mata menyeruak tak tertahan. Selalu ada skenario terbaik dari NYA untukku agar aku mau kembali bersandar padaNYA. Begitu sempurna hingga logika lemah yang ku miliki tak mampu menalarnya.

Kelalahanku melalui kehampaan panjang yang terasa seperti nyaris tak berujung menuntunku untuk merebahkan diri dan menangis sekeras mungkin. Menarik ku kembali agar mau berjuang dan berhenti dari pelarian yang selama ini aku lakukan. Membangkitkan keyakinanku bahwa Allah akan berlari menghampiriku ketika aku bahkan hanya berjalan mendekat padaNYA.

Tidak ada seorangpun yang menyalahkanku dan menyuruhku menghentikan ratapan nestapa dalam diamku. Seperti malam ini. Menyendiri ditemani alunan lagu yang masih gagal mengembalikan senyumku. La tahzan. Jangan bersedih wahai diri ini. Innallaha ma’ana. Allah bersama kita.

Ya. Hanya Allah.

latahzan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s