Menilik Cahaya Rembulan Dalam Gulita Malam

Bersyukur menjadi hal yang sulit dilakukan ketika iman tergerogoti dengki dan iri.¬†“kamu enak sih.. kamu nggak tau kan apa yang aku rasain selama ini” menjadi kalimat yang sering terlontar dari¬†sosok diri yang masih merasa “aku yang paling merana”. Kepercayaan diri luntur tergantikan rasa mengiba perhatian kepada orang lain. Lupa bahwasanya Allah selalu mengawasi dan melihat sekuat apa hamba-NYA dalam berjuang.

Rasa malas melihat dunia sekitar membuat ikhtiar terasa percuma. Tak lagi ada cahaya rembulan yang terlihat dalam gelapnya malam. Tak lagi nampak indahnya dunia dalam lentera kehidupan di depan mata karena kegagalan dan kehilangan. Semua terasa gelap dan menghitam dalam bayang keputusasaan. Lupa bahwasanya segala yang ada di tangan hanya titipan dari Allah saja.

Tetap melangkah untuk berjuang dalam gulita malam sembari menunggu fajar datang ditemani cahaya rembulan adalah suatu keharusan. Seberat apapun kesulitan mari percaya bahwa Allah menyayangi hamba-NYA dan selalu ingin hamba-NYA menjadi lebih baik hari demi hari. Karena sesungguhnya kita dan apa yang ada di dunia ini adalah milik-NYA. Bukan kah pemilik selalu lebih tahu apa yang terbaik atas apa yang ia ciptakan?

BELONGSTOALLAH