Karena Saya Bukan Orang yang Tepat

Hujan telah mereda. Sinar matahari kembali terasa menerik. Debu jalanan telah dapat beterbangan. Payung  tertutup kembali dan tersimpan rapi di dalam tas. Semua kembali beraktifitas dan sesekali para pengendara berusaha menghindari genangan air.

Malam pun datang. Menjemput rasa lelah orang-orang yang sibuk bekerja di pagi hingga sore hari. Tak ada keluhan namun dari sorot mata mereka nampak jelas letih yang terasa. Kembali ke rumah dan beristirahat. Hanya itu yang terpikirkan.

Tak berapa lama, ketika tubuh beristirahat sejenak, adzan subuh telah menyapa. Allah menyampaikan kerinduannya dengan mengembalikan ruh kepada raga. Mengetuk jiwa yang lelah agar kembali meminta yang terbaik dari yang baik.

Lika liku keseharian yang tidak banyak berubah. Begitu pula posisi saya yang tak jua menemukan singgasiananya. Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, dan kemudian entah sudah berapa lama saya telah hadir dalam kehidupan orang-orang di sekitar saya dan kemudian terpaparlah kata-kata itu kepada saya.

“kamu hanya bisa menyusahkan”

“kamu tidak bisa memberi saya semangat”

“kamu tidak berguna”

“apakah kamu mau bertanggung jawab atas kematian saya nantinya..?”

“ini semua salah kamu”

Salahkah jika saya kemudian mengatakan “buang saja saya. Karena saya bukan orang yang tepat seperti yang Anda butuhkan. Namun sebelum Anda benar-benar membuang saya, bisa kah Anda mengatakan saya harus bagaimana? apa kesalahan saya? karena saya lelah dan ingin mendapatkan orang yang menginginkan keberadaan saya sebagai orang yang tepat untuk tinggal di sisinya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s